Rabu, 19 Agustus 2015

Panggung Kemerdekaan di Kecamatan Ngadirojo, Pacitan






Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Peribahasa tersebut memberikan pengertian kepada kita bahwa setiap daerah mempunyai hal-hal spesifik yang membedakan dengan daerah lain, baik terkait alam maupun kesenian. Indonesia adalah negara yang terdiri dari ratusan suku bangsa dan ribuan sub-suku bangsa. Setiap suku bangsa memiliki kekhasan masing-masing, termasuk dalam menyambut  hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Kecamatan Ngadirojo nampaknya salah satu daerah yang konsisten dalam menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia dengan penuh kemeriahaan. Beragam acara telah terangkai beberapa waktu sebelum tanggal tujuh belas, misalnya perlombaan olahraga ataupun perlombaan di bidang seni dan budaya. Puncaknya, didirikan stand expo dari masing-masing desa dan instansi yang ada di wilayah kecamatan Ngadirojo. Expo ini beroperasi dari 17 hingga 19 Agustus dengan memamerkan hal-hal unggulan dari desa/instansi masing-masing. Selain expo, lapangan desa Ngadirojo juga didirikan panggung tempat berekspresi dari generasi bangsa di kecamatan Ngadirojo.

Sanggar Edi Peni berkesempatan show up kemampuan di panggung kemerdekaan pada tanggal 18 Agustus 2015. Dengan menggandeng SMP Negeri 1 Ngadirojo, sanggar Edi Peni menyajikan tari Sanjaya Rangin. Berbeda dengan tampilan sebelumnya, tarian Sanjaya Rangin dikemas dengan sedikit berbeda. Perbedaan paling mencolok nampak dari mahkota yang dikenakan penari dan tata rias rambut. Mahkota yang dipakai nampak lebih mewah daripada tampilan penari Sanjaya Rangin sebelumnya. Sedangkan rambut dibiarkan terurai, ciri khas tarian Jawa Timur.

Tari kedua yang disajikan adalah Tari Topeng Sumur Gedhe. Tarian ini ditarikan oleh lima siswi SMP Negeri 3 Ngadirojo dengan anggun. Tari ini adalah runner up FLS2N Kabupaten Pacitan kategori Cipta Kreasi Tari SMP. Tari Topeng Sumur Gedhe bercerita tentang penunggu danyang Sumur Gedhe yang berada di wilayah Tawang, Sidomulyo.


Kedua tari tersebut menjadi sajian yang memuaskan warga Ngadirojo yang haus dengan tampilan kesenian anak bangsa yang belakangan banyak digeser oleh tari-tari modern yang datang bersama arus globalisasi. Kedua tari tersebut juga merupakan bukti bahwa masih ada anak bangsa yang menjaga dan melestarikan budaya daerah sebagai aset budaya nasional. [PK]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar