Sabtu, 03 September 2016

Tari Mayong

Tari Mayong merupakan tarian beraroma jawa Timur lengkap dengan musik ritmik dan kostum penari berwarna mencolok. Kedua indikator ini menggambarkan godaan duniawi yang penuh gebyar dan menyilaukan. Para wanita yang berperan sebagai penari menggambarkan bahwa wanita merupakan sasaran utama dari godaan ini.

Tari Mayong dikreasikan oleh Untung Muljono dari Sanggar Kembang Sore. Tarian ini pernah menjadi Juara II Dalem Festival Tari Nasional kelompok umur 14-17 tahun.

Adalah Acik Nur Minarsih, salah satu kru Sanggar Edi Peni, yang menularkan tarian ini kepada anak-anak MI Sidomulyo, Kec. Ngadirojo, Kab. Pacitan. Keelokan tari diikuti dengan polah lincah-trengginas penari menjadi satu daya tarik sendiri bagi para hadirin. [PK]

Selasa, 30 Agustus 2016

Tari Topi



Dunia kanak-kanak memang penuh dengan suka cita. Suka cita yang begitu jujur dan lahir dan hal-hal yang sederhana. Bagi anak-anak, ada banyak alasan untuk membuat suasana mencadi cair dan penuh tawa. Alasan-alasan itu umumnya lahir dari hal sepele yang tak pernah dipikirkan oleh orang dewasa.

Jika kita tengok kembali ke satu hingga dua dekade silam, kita akan sangat mudah menemukan anak-anak bernyanyi bersama dengan nyanyian yang sederhana. Kesederhanaan ini bukan hanya dari tema lagu, namun juga nada yang menyusun lagu tersebut. Lagu balonku, pelangi, bintang kecil, abang tukang bakso, hingga topi saya bundar. Saat ini, lagu tersebut sudah mulai tergeser oleh lagu orang dewasa.

Sanggar Edi Peni mencoba menghadirkan kesederhanaan dunia anak-anak. Sebelumnya, sudah pernah dikupas tentang tarian anak-anak bertema binatang, seperti tari gajah dan tari pitik lancur. Selain itu, ada tari gegolo yang menceritakan tentang kegemaran bocah perempuan pada salah satu mainannya, yaitu boneka. Kali ini, akan dibahas satu tarian yang juga ilhami dari properti permainan anak-anak, yaitu topi.

Tari topi, seperti namanya, menggunakan topi sebagai properti utama dalam tarian. Topi digunakan penari perempuan untuk melenggak-lenggok dan bergerak lincah mengelilingi panggung pementasan.

Topi merupakan alat perlindungan, sehingga dari tarian ini dapat ditarik pelajaran bahwa manusia tidak mampu berdiri sendiri tanpa alat perlindungan. Manusia memerlukan hal lain, baik alat maupun orang, untuk melindungi diirinya pada suatu waktu. Oleh karenanya, sikap sombong harus dihindari untuk keberlangsungan hidup bermasyarakat. [PK]

Minggu, 28 Agustus 2016

Tari Bang-Bang Wetan

Tari Bang-bang Wetan merupakan tarian yang menceritakan semangat juang putra-putri daerah Jawa Timur dalam mengusir penjajahan. Oleh karenanya, tarian ini disuguhkan dengan "aroma" jawa timuran yang rancak dan gagah. Ciri lain dari tarian ini adalah nuansa warna yang mencolok pads kostum penarinya.

Bang-bang wetan dapat diartikan sebagai "abang-abang ing sisih wetan" (semburat merah di ufuk timur). Semburat warna merah ini merupakan pertanda akan datangnya pagi. Pagi merupakan waktu yang digunakan manusia untuk mewujudkan mimpi membumi, menjadikan harapan menjadi kenyataan.

Tari Bang-bang Wetan merupakan kreasi Raff Dance Company. Sanggar Edi Peni Pacitan menarikan tarian ini pada Festival Tari Tingkat SMP se-Kabupaten Pacitan tahun 2005. Dalam festival ini, Sanggar Edi Peni berhasil menggondol predikat terbaik dan didapuk untuk mewakili kabupaten Pacitan dalam ajang Majapahit Travel Fair (MTF) se-provinsi Jawa Timur. (PK)

Senin, 15 Agustus 2016

Tarian dan Percintaan


Tarian merupakan wujud dari sebuah keindahan. Sebuah kesatuan utuh dari seni musik, seni gerak dan seni suara untuk menyampaikan sebuah pesan bagi khalayak ramai. Sebuah pesan yang diharapkan dapat berdampak luas kepada masyarakat. Oleh karenanya, tarian bukan sebuah karya asal, namun sebuah hasil dari perenungan panjang. Pesan yang mendalam merupakan cerminan dari proses kontemplasi yang juga mendalam.

Percintaan merupakan salah satu topik yang tak akan habis untuk dikupas, termasuk dalam dunia tarian. Percintaan pula menjadi inspirasi beberapa kisah legendaris, termasuk Romeo dan Juliet, hingga cerita Siti Nurbaya. Di panggung tari, banyak kisah percintaan diangkat sebagai tema, sebut saja Sendratari Roro Jonggrang, Kisah Cinta Nyai Dasima dan Kisah Raden Panji Asmorobangun.

Tema percintaan terkadang dihadirkan dalam hal yang tak biasa, sebut saja cinta terhadap alam semesta. Sebuah kampanye akan kelestarian alam agar terus dijaga. Tema tak biasa lain misalnya tentang cinta pada Sang Pencipta. Tarian-tarian sakral ini begitu magis dan mendalam. Umat Hindu yang menjadikan tarian sebagai salah satu ritual penyembahan, punya beragam tari yang bertujuan mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widi Wasa.

Sanggar Edi Peni bersama Tim KKN dari Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta menggandeng TK Nurul Yaqin untuk mengkreasikan tarian tentang percintaan yang tak biasa: Cinta Rasulullah. Tarian ini bertujuan menanamkan cinta kepada Muhammad SAW yang diyakini umat muslim sebagai nabi terakhir yang membawa ajaran tentang kedamaian, keindahan, dan tentunya kebenaran. Lewat tari ini diharapkan anak-anak (yang menjadi penonton) pada khususnya akan semakin cinta pada nabinya. Melalui rasa cinta yang ada, diharapkan ajaran-ajaran yang dibawanya juga terus dilaksanakan untuk kebaikan duniawi dan ukhrowi. [PK]

Jumat, 05 Agustus 2016

LEGENDA WATU LUMPANG

Nun di ujung timur Kabupaten Pacitan tersebutlah sebuah kisah yang sudah melegenda, tepatnya di dusun Bawur, Desa Sukorejo, Kecamatan Sudimoro. Desa Sukorejo merupakan daerah yang subur makmur. Pertanian merupakan sektor utama yang menghidupi warganya.



Alkisah di pinggir pantai Kondhang ada sebuah batu Gumuk yang menyerupai lumpang dan sepotong batu panjang yang menyerupai alu. Lumpang dan alu tersebut ternyata tempat bersemayamnya Jin Dawil Kasut.

Konon cerita Jin Dawil Kasut ini mempunyai kebiasaan yang buruk, dia suka sekali memangsa bayi. Bila dia menghendaki mangsa maka dia memukul batu tersebut sehingga terdengar sampai pelosok daerah di Bawur, dan selanjutnya ada kejadian aneh bayi meninggal mendadak dan di Batu Lumpang itu mengalir darah segar.

Karena kejadian yang berulang ulang maka perangkat desa ada kesepakatan untuk mendatangkan Kyai Baweh dari Ponorogo yang dikenal bisa menaklukkan jin. Dan setelah kedatangan Kyai Baweh dengan segala daya dan upayanya Batu Lumpang dapat di balik sehingga tengkurap dan alunya terpotong jadi dua.

Semenjak bisa terbaliknya Batu Lumpang daerah Bawur Sukorejo menjadi aman dan tenteram sampai sekarang.


Foto: Doc-info Pacitan

Kamis, 14 Januari 2016

Tari Galiyer


Gal egol egal egol egolane galiyer
Gal egol egal egol egolane galiyer

Galiyar-galiyer gemulai penari binaan Sanggar Tari Edi Peni Pacitan ini menyuguhkan sajian yang sedap untuk ditonton. Enam siswi SDN Wiyoro I, Ngadirojo, Pacitan ini dengan penuh rasa membawakan tarian yang berdurasi lebih dari tujuh menit ini. Dibalut dengan busana hijau yang cerah, penampilan para penari galiyer ini makin meriah dan sumringah.

Tari Galiyer merupakan sebuah tari kreasi baru yang muncul tahun 2007 hasil besutan Sanggar Tari Kembang Sore. Tarian ini pernah berjaya di fertival tari tingkat nasional kala itu.

Tari Galiyer sendiri bercerita tentang lenggak-lenggok remaja putri yang energik dan ceria. Keceriaan ini digambarkan dengan goyangan-goyangan manis yang lemah gemulai manja, sedap untuk disaksikan.

Properti selendang mempercantik penampilan, selain juga menambah variasi gerak di dalam tari. [PK]

Rabu, 06 Januari 2016

Bangau dan Sebuah Sejarah


Tari Bangau Sanggar Edi Peni Pacitan

Bangau adalah golongan burung yang  berukuran besar, berkaki panjang, berleher panjang, dan mempunyai paruh yang besar, kuat dan tebal. Hewan ini memakan ikan kecil, katak, atau serangga air. Bangau memiliki warna bulu yang putih seakan melambangkan kesucian di atas rawa atau persawahan yang tiap hari ia pijaki. Bangau adalah sosok burung yang berwibawa dan penuh kebanggaan.

Kesucian dan dan kewibawaan inilah yang mungkin menjadi inspirasi lahirnya sebuah tari, tari bangau. Tarian ini adalah tari yang begitu bersejarah bagi Sanggar Edi Peni Pacitan, pasalnya tarian ini menjadi karya pertama bagi sanggar yang berlokasi di selatan Kantor Desa Hadiluwih Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan ini.

Tari Bangau Sanggar Edi Peni Pacitan

"Karya ini lebih tua dari sanggar ini secara resmi.", ujar Bapak Edi Suwito.

Secara resmi, Sanggar Edi Peni lahir tahun 1994, sedangkan karya ini menjadi embrio lahirnya sanggar yang saat ini terus berusaha eksis dalam menjaga dan mengembangkan budaya Jawa. Bapak Edi Suwito menambahkan bahwa tarian ini menggunakan properti "ala kadarnya" karena memang sanggar belum resmi berdiri.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan jasa para pahlawannya. Demikian pula Sanggar Edi Peni senantiasa berupaya untuk menghargai sejarah yang ada. Sejarah dapat dijadikan sebagai pelecut semangat, sejarah bisa menjadi motivasi ketika konsistensi tak lagi naik meninggi.

Bangau yang suci dan penuh wibawa semoga terus dijaga agar niat menjaga budaya tetap suci tanpa dikotori iri dan dengki. Semoga dalam menggapai cita tetap dilakukan dengan cara yang penuh wibawa, bukan kepicikan semata. [PK]

Minggu, 03 Januari 2016

TARI ADALAH TANDA KEHIDUPAN



“Tari adalah tanda kehidupan”, adalah ucapan seorang koreografer, Vishnu, yang diceritakan dalam sebuah film bollywood “ABCD – Any Body Can Dance”. Film ini memang bukan keluaran baru, namun telah dirilis sejak Februari 2013 silam. Sebagai sebuah film bollywood, wajib rasanya menampilkan tarian dan nyanyian sebagai suguhan khas dari Negeri Hindustan ini, terlebih judul yang diusungpun berbau tarian.

Film berdurasi 143 menit ini tidak hanya memperlihatkan kepiawaian aktor dan aktrisnya dalam menari. Film ini juga dibalut dengan cerita sebuah kompetisi tari terbesar di Negeri India. Vishnu, sang koreografer, merupakan tokoh sentral yang mengalami pengkhianatan demi pengkhianatan. Bermula dari pengkhiatan dari rekan kerjanya, hingga pengkhiatan oleh anak didiknya. Optimisme akan kuasa Tuhan menjadikan Vishnu terus berkarya. Sebuah filosofi tentang tarian dia lontarkan setelah mengikuti Perayaan Ganpati di sudut kecil kota Mumbai.
 
Vishnu berkisah tentang filosofi tari kepada Gopi, sahabatnya

Tarian adalah tanda kehidupan
Tuhan menciptakan dunia
Tuhan menciptakan hewan dan tumbuhan
Lalu Tuhan memberikan tarian kepada mereka

Dedaunan menari tertiup angin
Sungai mengalir dalam irama
Ikan berenang burung terbang
Tarian ada di mana-mana

Tarian adalah tanda kehidupan
Sesuatu yang bergerak dengan irama alam menandakan sebuah kehidupan

Bukan hanya terkait filosofi tarian dan harga kesetiaan, film ini juga membahas tentang harga sebuah keberhasilan. Bahwa keberhasilan merupakan buah dari sebuah jerih payah. Bahwa keberhasilan bukan merupakan proses instan yang datang begitu saja. Keberhasilan adalah irisan dari keyakinan, kerja keras, komitmen dan kesetiaan.

Tarian Perayaan Ganpati menjadi puncak tarian yang ditampilkan dalam film ini. Umat Hindu memang terkenal dengan tariannya yang eksotik dan sakral. Tak perlu jauh ke India, di Bali juga merupakan cerminan bagaimana tarian menjadi bagian dari kehidupan mereka, bagian dari adat, bagian dari ibadah dan bagian dari kesyahduan hidup.

“Put your heart into dance and dance will never leaves your heart!
 
Pesan dalam film ABCD

Mari menari, karena setiap orang mampu menari! [PK]